Assalamu'alaikum. udah
lama ga ngepost nih hhe kali ini aku ngepost karyaku sendiri. ya
ceritanya sih mungkin masih biasa-biasa aja maklum hhe baru belajar
nulis cerpen. buat teman-teman yang suka baca cerpen, yuk silahkan baca
dan jangan lupa baca Bismillah dulu yaaaa.
Terhipnotis Kenikamatan Dunia
Teknologi
Di
sabtu malam minggu dengan hujan gerimis yang tersisa dalam kegelapan malam dan
angin yang setia mengikuti tiap tetesan yang jatuh dari langit. Suatu kejutan
yang luar biasa datang dari senyum indah yang terukir di bibir ayah tercinta
bersama motor merahnya dan ditumpangi kotak-kotak besar berjas plastik hitam
jumbo. Sebuah benda yang ku inginkan namun tidak juga memaksakan kedua
orangtuaku untuk membelikannya untukku. Ya, sebuah laptop dan printer untukku.
Suatu kejutan yang tidak ku duga, kedua orangtuaku menambah fasilitas yang
kubutuhkan di bangku SMA. Aku tidak lagi repot-repot mengunjungi warnet-warnet
yang jaraknya memakan waktu sekitar 5-10 menit, belum lagi harus berebut
tempat. Aku tidak lagi harus repot-repot mengunjungi toko yang menyediakan jasa
printing dan fotokopi apalagi di waktu malam hari.
“Assalamu’alaikum”.
Ujar ayahku malam itu.
“wa’alaikumsalam.
Loh Yon datangnya tiba-tiba, lagi hujan angin juga. Ayo masuk”. Bude pemilik
rumah yang ku tempati selama sekolah di SMA mempersilahkan ayahku masuk ke
dalam rumah.
Ayahku
mengukir senyum indahnya lagi dengan mangangkat kotak-kotak besar di atas
motornya. Yaa aku hanya bertanya saja sambil membantu mengangkat kotak-kotak
tersebut.
“ini
apa yah? Kok datangnya ga bilang-bilang? Kan lagi hujan”. Aku bertanya dengan
senyuman.
“ini
laptop sama print untuk keperluan kamu sekolah” ujar ayahku.
Jelas
saja aku kaget dan bahagia saat itu sehingga membuatku lupa sakitnya ayahku
mencari dana untuk membeli fasilitas ini serta dinginnya ayahku melawan hujan
dan angin serta panas selama diperjalanan. Kira-kira perjalanan yang ditempuh
ayahku mencapai 7-9 jam perjalanan.
Lalu
ku buatkan teh hangat untuk ayahku yang sedang duduk santai di kursi ruang
tamu. Lelah yang ayahku rasa tak ia perlihatkan di depanku. Aku mau saja di
tipu ketika ayahku mengatakan bahwa ia tidak apa-apa, merasakan panas dan
terguyur hujan itu hal yang biasa baginya.
Detik,
menit, jam telah berganti namun, jari-jari tanganku masih mencicipi laptop dan
printer baru. Berbagai fitur ku coba-coba sampai aku lupa untuk memejamkan
mataku walau sebentar. Hingga sampai waktu subuh tiba, aku justru sedang dibuai
mimpi hingga tak mengerjakan kewajibanku.
Terik
matahari telah memasuki ruang-ruang di kamarku membuatku terbangun dan mengusap
mata ini. Ku pandang laptop yang berada di depanku, masih utuh dengan kondisi
menyala.
“tok...
tokk, yan bangun yan..” rupanya ayahku membangunkanku.
“iya yah” jawabku.
Ku
buka pintu kamar dan menuju kamar mandi mencari segayung air untuk membasuh
muka ku yang telah di buai mimpi selama 2 jam.
“ayah
mau pulang, bangunnya jangan siang lagi. Kalau sekolah gimana? Kalau hidup
sendiri gimana? Belajar mandiri”. Kata ayahku yang sedang duduk di depanku.
“iya
ayah. Kok ayah cuma sebentar di sininya? Nantilah yah pulangnya”. Dengan nada
manjaku.
“ayah
mau cepat pulang. Mamamu udah nunggu di rumah. Ya udah ayah pulang sekarang.
Belajar yang rajin, jangan banyak main”. Pesan ayahku ketika beranjak keluar
dari rumah bude.
“he’eh
yah..” sambil mencium tangan ayah.
“Assalamu’alaikum”
ayahku pamit dan kemudian lama-kelamaan tak terlihat lagi daru rumah bude.
Begitu
ayahku pulang, telpon yang ku pegang berdering dan ku lihat satu nama yang
berarti dalam hidupku, Mama.
“Hallo,
Assalamu’alaikum ma. Ada apa ma? Tanyaku dalam telepon.
“Wa’alaikumsalam.
Bapak udah ngantar laptop sama printmu yan?” tanya mama.
“udah
ma, barusan bapak pulang” jawabku.
“oh
iya syukur. Di jaga yang bener. Jangan dibawa kemana-mana dipakai di rumah jak,
ga usah pamer sama temen-temenmu, ga usah di bawa main”. Kata mamaku.
“iya
ma.” Ucapku.
“ya
udah, belajar yang bener, jangan banyak main. Assalamu’alaikum”. Pesan mama
lagi.
“iya
ma. Wa’alaikumsalam”. Jawabku.
Hari
senin, aku kembali ke sekolah dengan wajah yang gembira, ceria, dan menebar
senyuman manis kepada siapapun yang berada di sekolah. Mungkin sesuatu yang
mengherankan di mata teman-temanku. Aku biasanya sedikit diam tapi kalau senyum
tetap gak mengherankan, karena itu sudah bagian dari hari-hariku.
Kehidupan
ku jalani seperti biasanya, tidak ada masalah yang begitu berat ku alami hingga
di hari rabu, entah apa yang menimpa ku kini, naas kah, sial kah, atau ini
suatu peringatan dari-Nya.
Hari
itu aku di ajak temanku main ke kosnya. Nama temanku Indah. Sampai di kosnya
masih biasa-biasa aja, aku justru mendapatkan kenalan baru serta bertemu dengan
teman lama ku waktu SMP, namanya Bondhan. Kemudian indah mengajakku untuk
membeli sesuatu di pasar. Ya aku sih ikut-ikut aja.
“yan,
ke pasar yuk. Temenin beli sesuatu” kata Indah.
“yuk
lah”aku iya-iya aja. “bon nitip tas aku ya”. Ujarku kepada bondhan.
“iya
tenang ja aku jagain”. jawab bondhan.
Setelah
mendapatkan apa yamg Indah cari, aku balik lagi ke kos dengan Indah.
Sesampainya di kos raut wajah bondhan berubah 90derajat dari sebelum aku pergi.
Tentu saja aku heran.
“kenapa
bon?” aku memberanikan diri untuk bertanya.
“yan
laptopmu kena tumpahan minyak kayu putih, tadi aku ambil dari tasm terus ku
letak di meja kamarku”. Ujar bondhan.
Aku
kaget bukan main. Laptop yang baru ayahku belikan akankah rusak? Aku takut mama
ku memarahiku, aku takut ayahku kecewa, aku takut kedua orangtuaku hilang
kepercayaan terhadapku. Seketika pikiranku menjadi tak menentu, senyum puas
setelah jalan-jalan hilang dengan begitu cepat tergantikan oleh raut wajah
bagai baju yang kusut seminggu tidak di setrika.
Langsung
ku ambil laptopku dan ku cek rusak atau tidaknya laptopku. Dan ternyata saat ku
nyalakan, ada garis-garis bayang yang cantik di layar laptop. Laptop tidak mati
tapi penampakan layarnya sudah tidak sesempurna layar laptop pada umumnya.
Sesampai
di rumah aku merenungi kejadian ini. Ku ingat-ingat lagi pesan mama dan ayahku.
Ternyata aku telah lalai menjalankan amanah kedua orangtuaku serta tidak
menjalankan kewajibanku sebagai umat muslim yang sehingga membuat Allah SWT
memberiku peringatan. Aku hanya dapat menyesali semua ini dan mencoba menerima
apa yang telah terjadi. Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi.
Karya:
Cahya Alfiyani
nah gimana cerpennya? jangan lupa komentarnya ya :)
sekian dulu yaaaaa. tunggu yang selanjutnyaaaa ;)
