Selasa, 05 Januari 2016

Cerpen Terhipnotis Kenikamatan Dunia Teknologi


Assalamu'alaikum. udah lama ga ngepost nih hhe kali ini aku ngepost karyaku sendiri. ya ceritanya sih mungkin masih biasa-biasa aja maklum hhe baru belajar nulis cerpen. buat teman-teman yang suka baca cerpen, yuk silahkan baca dan jangan lupa baca Bismillah dulu yaaaa.
 
Terhipnotis Kenikamatan Dunia Teknologi


Di sabtu malam minggu dengan hujan gerimis yang tersisa dalam kegelapan malam dan angin yang setia mengikuti tiap tetesan yang jatuh dari langit. Suatu kejutan yang luar biasa datang dari senyum indah yang terukir di bibir ayah tercinta bersama motor merahnya dan ditumpangi kotak-kotak besar berjas plastik hitam jumbo. Sebuah benda yang ku inginkan namun tidak juga memaksakan kedua orangtuaku untuk membelikannya untukku. Ya, sebuah laptop dan printer untukku. Suatu kejutan yang tidak ku duga, kedua orangtuaku menambah fasilitas yang kubutuhkan di bangku SMA. Aku tidak lagi repot-repot mengunjungi warnet-warnet yang jaraknya memakan waktu sekitar 5-10 menit, belum lagi harus berebut tempat. Aku tidak lagi harus repot-repot mengunjungi toko yang menyediakan jasa printing dan fotokopi apalagi di waktu malam hari.
“Assalamu’alaikum”. Ujar ayahku malam itu.
“wa’alaikumsalam. Loh Yon datangnya tiba-tiba, lagi hujan angin juga. Ayo masuk”. Bude pemilik rumah yang ku tempati selama sekolah di SMA mempersilahkan ayahku masuk ke dalam rumah.
Ayahku mengukir senyum indahnya lagi dengan mangangkat kotak-kotak besar di atas motornya. Yaa aku hanya bertanya saja sambil membantu mengangkat kotak-kotak tersebut.
“ini apa yah? Kok datangnya ga bilang-bilang? Kan lagi hujan”. Aku bertanya dengan senyuman.
“ini laptop sama print untuk keperluan kamu sekolah” ujar ayahku.
Jelas saja aku kaget dan bahagia saat itu sehingga membuatku lupa sakitnya ayahku mencari dana untuk membeli fasilitas ini serta dinginnya ayahku melawan hujan dan angin serta panas selama diperjalanan. Kira-kira perjalanan yang ditempuh ayahku mencapai 7-9 jam perjalanan.
Lalu ku buatkan teh hangat untuk ayahku yang sedang duduk santai di kursi ruang tamu. Lelah yang ayahku rasa tak ia perlihatkan di depanku. Aku mau saja di tipu ketika ayahku mengatakan bahwa ia tidak apa-apa, merasakan panas dan terguyur hujan itu hal yang biasa baginya.
Detik, menit, jam telah berganti namun, jari-jari tanganku masih mencicipi laptop dan printer baru. Berbagai fitur ku coba-coba sampai aku lupa untuk memejamkan mataku walau sebentar. Hingga sampai waktu subuh tiba, aku justru sedang dibuai mimpi hingga tak mengerjakan kewajibanku.
Terik matahari telah memasuki ruang-ruang di kamarku membuatku terbangun dan mengusap mata ini. Ku pandang laptop yang berada di depanku, masih utuh dengan kondisi menyala.
“tok... tokk, yan bangun yan..” rupanya ayahku membangunkanku.
“iya yah” jawabku.
Ku buka pintu kamar dan menuju kamar mandi mencari segayung air untuk membasuh muka ku yang telah di buai mimpi selama 2 jam.
“ayah mau pulang, bangunnya jangan siang lagi. Kalau sekolah gimana? Kalau hidup sendiri gimana? Belajar mandiri”. Kata ayahku yang sedang duduk di depanku.
“iya ayah. Kok ayah cuma sebentar di sininya? Nantilah yah pulangnya”. Dengan nada manjaku.
“ayah mau cepat pulang. Mamamu udah nunggu di rumah. Ya udah ayah pulang sekarang. Belajar yang rajin, jangan banyak main”. Pesan ayahku ketika beranjak keluar dari rumah bude.
“he’eh yah..” sambil mencium tangan ayah.
“Assalamu’alaikum” ayahku pamit dan kemudian lama-kelamaan tak terlihat lagi daru rumah bude.
Begitu ayahku pulang, telpon yang ku pegang berdering dan ku lihat satu nama yang berarti dalam hidupku, Mama.
“Hallo, Assalamu’alaikum ma. Ada apa ma? Tanyaku dalam telepon.
“Wa’alaikumsalam. Bapak udah ngantar laptop sama printmu yan?” tanya mama.
“udah ma, barusan bapak pulang” jawabku.
“oh iya syukur. Di jaga yang bener. Jangan dibawa kemana-mana dipakai di rumah jak, ga usah pamer sama temen-temenmu, ga usah di bawa main”. Kata mamaku.
“iya ma.” Ucapku.
“ya udah, belajar yang bener, jangan banyak main. Assalamu’alaikum”. Pesan mama lagi.
“iya ma. Wa’alaikumsalam”. Jawabku.
Hari senin, aku kembali ke sekolah dengan wajah yang gembira, ceria, dan menebar senyuman manis kepada siapapun yang berada di sekolah. Mungkin sesuatu yang mengherankan di mata teman-temanku. Aku biasanya sedikit diam tapi kalau senyum tetap gak mengherankan, karena itu sudah bagian dari hari-hariku.
Kehidupan ku jalani seperti biasanya, tidak ada masalah yang begitu berat ku alami hingga di hari rabu, entah apa yang menimpa ku kini, naas kah, sial kah, atau ini suatu peringatan dari-Nya.
Hari itu aku di ajak temanku main ke kosnya. Nama temanku Indah. Sampai di kosnya masih biasa-biasa aja, aku justru mendapatkan kenalan baru serta bertemu dengan teman lama ku waktu SMP, namanya Bondhan. Kemudian indah mengajakku untuk membeli sesuatu di pasar. Ya aku sih ikut-ikut aja.
“yan, ke pasar yuk. Temenin beli sesuatu” kata Indah.
“yuk lah”aku iya-iya aja. “bon nitip tas aku ya”. Ujarku kepada bondhan.
“iya tenang ja aku jagain”. jawab bondhan.
Setelah mendapatkan apa yamg Indah cari, aku balik lagi ke kos dengan Indah. Sesampainya di kos raut wajah bondhan berubah 90derajat dari sebelum aku pergi. Tentu saja aku heran.
“kenapa bon?” aku memberanikan diri untuk bertanya.
“yan laptopmu kena tumpahan minyak kayu putih, tadi aku ambil dari tasm terus ku letak di meja kamarku”. Ujar bondhan.
Aku kaget bukan main. Laptop yang baru ayahku belikan akankah rusak? Aku takut mama ku memarahiku, aku takut ayahku kecewa, aku takut kedua orangtuaku hilang kepercayaan terhadapku. Seketika pikiranku menjadi tak menentu, senyum puas setelah jalan-jalan hilang dengan begitu cepat tergantikan oleh raut wajah bagai baju yang kusut seminggu tidak di setrika.
Langsung ku ambil laptopku dan ku cek rusak atau tidaknya laptopku. Dan ternyata saat ku nyalakan, ada garis-garis bayang yang cantik di layar laptop. Laptop tidak mati tapi penampakan layarnya sudah tidak sesempurna layar laptop pada umumnya.
Sesampai di rumah aku merenungi kejadian ini. Ku ingat-ingat lagi pesan mama dan ayahku. Ternyata aku telah lalai menjalankan amanah kedua orangtuaku serta tidak menjalankan kewajibanku sebagai umat muslim yang sehingga membuat Allah SWT memberiku peringatan. Aku hanya dapat menyesali semua ini dan mencoba menerima apa yang telah terjadi. Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi. 

Karya: Cahya Alfiyani
 
 nah gimana cerpennya? jangan lupa komentarnya ya :) 
sekian dulu yaaaaa. tunggu yang selanjutnyaaaa ;)

0 komentar:

Posting Komentar

 

Jam